Kentang Cingkariang Bersalin Rupa

Kelezatan kentang cingkariang memang tak diragukan lagi. Ia kerap menjadi buah tangan warga minangkabau yang hendak merantau ke tanah seberang. Cingkariang dibawa dalam bentuk umbi mentah dan keripik balado. “ Mereka merasa belum pulang kampung, kalau tidak membawa cingkariang,” kata Daswani Munir, pengolah keripik di Bukittinggi.

Kentang Cingkariang

Lantaran itu permintaan cingkariang tinggi. Di warung Mak Enan di sentra kios organik Aie Angek kecamatan Sepuluh koto, Tanah datar, misalnya. Setiap akhir pekan dan hari libur ia menjual rata-rata 20 kg per hari. Kentang lain hanya 6 kg. padahal harga kentang cingkariang organik lebih tinggi daripada kentang lain.

Penampilan cingkariang menarik dibanding kentang lain. Bentuk umbi bulat lonjong dan berukuran mungil. Panjang grade paling besar hanya 5-6 cm, diameter 3-4 cm. Warna kulit dan daging umbi putih agak krem. Sayang, letak mata tunas agak dalam sehingga sulit untuk dikupas. Lantaran cocok dibuat keripik, ia diduga mempunyai berat jenis diatas 1,067 (standar kelayakan kentang olahan). Toh, dibuat sayur dan perkedel pun Cingkariang tak kalah nikmat.

kentang balado
Keripik Kentang Balado (Hasil Olahan Kentang)

Kata Cingkariang berasal dari nama daerah di Bukittinggi. Sayang, kentang Cingkariang ini kini sudah sangat langka dan sulit ditemukan. Ia baru ditemukan di daerah Nagari Balingka, Kecamatan Empat koto, Kabupaten Agam.

Anehnya ia tak lagi disebut kentang Cingkariang, tetapi bersalin rupa menjadi kentang hitam batang alahan panjang. Itu diduga karena batang kentang Cingkariang berwarna hitam. Nama itu sebutan lokal saja, di daerah lain tetap Cingkariang.

Petani memanen kentang granola di lahan pertanian Resort 10, Kayu Aro, Kerinci, Jambi, Kamis (14/5). Data BPS Jambi, Nilai Tukar Petani (NTP) provinsi itu pada April 2015 kemarin menurun 1,13 persen dari 95,81 poin pada bulan sebelumnya menjadi 94,72 poin akibat turunnya indeks harga yang diterima petani lebih kecil dibanding kenaikan yang dibayar petani. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/ss/mes/15.

Menurut Fauzi Sutan Sari Alam, pekebun pelopor di Balingka, pada masa lampau Cingkariang alias hitam batang alahan panjang disebut kentang kerinci. Itu ditengarai karena pekebun di kaki Gunung Kerinci marak mengebunkan sejak puluhan tahun silam.

Lambat laun penanaman berkurang seiring penurunan produksi. Konon sekitar 30 tahun lalu, produksi kentang cingkariang mencapai 20-30 ton per ha. Sayang sejak 10 tahun terakhir hasil rata-rata pekebun hanya 12-15 ton per ha. “yang bertahan semakin berkurang,” kata Fauzi. Diduga penurunan produksi itu karena bibit yang dipakai tidak jelas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s